REPUBLIKA.CO.ID, Kerajinan tangan selalu memiliki pesona tersendiri bagi wisatawan. Di Sulawesi Selatan terdapat beragam kerajinan tangan khas yang menarik dan bisa dijadikan sebagai buah tangan atau kenang-kenangan. Berikut lima kerajinan tangan khas Sulawesi Selatan yang direkomendasikan Noor Aini Rachmawati selaku Public Relation and Advertising Ezytravel.co.id pada Kamis (27/4)


Songkok Bone
Jika menyaksikan upacara adat atau seremoni yang diadakan di Sulawesi Selatan, mungkin akan melihat sebuah topi atau songkok yang dipakai para pejabat atau pemangku adat di sana. Saat memakai songkok ini biasanya dipadukan dengan jas tutup. Inilah yang disebut sebagai Songkok Bone, songkok atau topi yang berasal dari Kabupaten Bone. Penyebutan lainnya biasa menggunakan Songkok Recca. Kadangkala songkok ini juga menggunakan hiasan emas. Untuk songkok Bone yang berhias benang emas disebut Songkok Pamiring tetapi bila menggunakan emas sungguhan, disebut Songkok Pamiring Ulaweng (Songkok Berpinggir Emas).

Miniatur Tongkonan
Tongkonan adalah rumah adat Toraja dengan bentuk atap menyerupai perahu yang terdiri atas susunan bambu. Miniatur Tongkonan ini merupakan salah satu kerajinan tangan khas Sulsel yang diukir dan dibentuk berdasarkan desain asli. Miniatur Tongkonan merupakan cinderamata yang cukup digemari wisatawan baik lokal maupun internasional.

Miniatur Tau-Tau
Jika berkunjung ke pekuburan di Tana Toraja atau Toraja Utara, akan menemukan patung di area pekuburan tersebut. Inilah yang disebut Tau-tau yang berarti orang-orangan atau patung. Memang, dalam adat istiadat dan Budaya Toraja setiap orang kaya atau bangsawan yang meninggal akan dibuatkan Tau-Tau dan biasanya diletakkan di sekitar tempat jenazahnya dimakamkan. Dalam pembuatan Tau-Tau tidak boleh dikerjakan oleh sembarang orang melainkan oleh para pengrajin khusus.

Jaman sekarang, para pengrajin tidak hanya membuat Tau-Tau untuk orang yang meninggal tetapi juga menjadikannya sebagai cinderamata. Souvenir Tau-Tau tidak mengandung nilai sakral karena proses pembuatannya tanpa adanya ritual khusus dan Anda bisa menemukan miniatur tau-tau dijual di toko atau sekitar obyek wisata di Toraja.

Miniatur Perahu Phinisi
Perahu Pinisi adalah sebuah kapal kayu tradisional buatan tangan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, gaungnya sudah mendunia karena sudah berlayar dan menjelajah samudera di seluruh dunia. Kapal Pinisi ini sudah sejak-berabad-abad yang lalu, bahkan menurut catatan sejarah, cikal bakal Kapal Pinisi sudah ada sebelum tahun 500-an. Salah satu lokasi pembuatan perahu Pinisi yang populer saat ini adalah Tana Beru di Bulukumba.

Belakangan, miniatur perahu Pinisi semakin banyak dicari wisatawan untuk dijadikan sebagai souvenir kerajinan tangan khas Sulsel. Ada dua jenis kayu yang digunakan untuk membuat miniatur perahu Pinisi yaitu kayu hitam dan kayu putih. Miniatur Pinisi yang menggunakan kayu hitam harganya lebih mahal.

Kain Tenun
Sulawesi Selatan juga memiliki kain tradisional dengan perpaduan warna dan corak yang khas, yang populer adalah kain tenun Toraja dan kain sutera Sengkang. Untuk mengenali kain tenun Toraja bisa melihat motif, warna dan teksturnya. Semakin rumit motifnya tentu waktu pengerjaan akan semakin lama dan harganya akan semakin mahal. Sedangkan untuk kain sutera Sengkang, umumnya mengkilap dan tidak mudah kusut. Motifnya pun beragam dan jenis kainnya bervariasi mulai kain semi sutra yaitu campuran katun dan sutra hingga yang 100 persen sutra.

Di mana bisa membeli 5 kerajinan tangan khas Sulsel yang disebutkan di atas? Apakah harus mengunjungi masing-masing daerah asalnya? Tidak juga, kalau sedang berlibur di Makassar, langsung saja ke Jalan Somba Opu yang merupakan pusat oleh-oleh khas Makassar dan sekitarnya. Akan ditemukan deretan toko oleh-oleh yang menjual kerajinan tangan khas Sulsel.